Memori by Windry Ramadhina

  Resensi Memori Buku ini beli awalnya karena ada yang ngasih tahu aku kalau banyak pekerjaan dan istilah arsitektur di dalemnya, dan emang bener. Penulisnya ternyata adalah lulusan arsitektur UI (aaaa keren banget) dan sekarang punya biro desain sendiri (baca di halaman belakangnya :p ). Udah banyak novel yang dihasilkan dia, tapi memang memori ini yang jadi pertama buatku. Sebelum beli buku ini, udah sempet cari-cari resensinya di Goodreads sih, dan katanya emang bagus. Di sini penulis menggunakan sudut pandang pertama, dan kelihatannya memang selalu begitu di buku-buku dia yang lain. Judul               : Memori Pengarang      : Windry Ramadhina Tahun terbit  : 2012 Penerbit         : Gagasmedia Bab pertama novel ini memikat banget. Tentang bagaimana desain sebuah rumah yang romantis. Aku sebenernya kurang ngerti ya tentang desain-desain yang begituan, tapi mungkin karena Windry itu arsitek, dia bisa menuliskan setting-an itu dengan baik. Sungguh, aku ngerasa kayak lagi baca buku luar negri soalnya di desain rumah yang diceritain di bab pertama itu ada perapiannya. Akhirnya aku nyadar deh setelah baca lanjutannya kalau ini ternyata emang desain untuk rumah di luar negri. Mahoni, yang menjadi pemegang sudut pandang di novel ini, adalah arsitek yang bekerja di salah satu biro arsitektur di Virginia. Di bab pertama itu dia sedang menceritakan tentang desain yang diajukannya untuk kliennya. Tapi sayangnya, desain idealisnya itu nggak disukai oleh sang klien dan akhirnya dia balik ketemu Bosnya, Ron, dengan wajah tidak menyenangkan. Untung hubungannya dan Ron tidak seperti bos dengan bawahannya, mereka seperti teman, jadinya dia tidak kena marah meskipun tetap memegang idealisnya dan tidak menuruti apa keinginan kliennya. Kehidupan tenang—menurutnya—berubah saat dia mendapatkan telepon dari Indonesia, tepatnya dari ayahnya. Mahoni ini memiliki masa lalu kelam dengan ayahnya, yang membuat kepribadiannya juga sama kelamnya. Dia benci banget sewaktu dapat telepon itu, tapi kemudian dia dapat telepon kedua yang mengatakan bahwa ayahnya meninggal. Akhirnya dia buru-buru pulang ke Indonesia. Setelah sampai di Indonesia, dia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus menjaga adiknya yang masih SMA. Itu tentu bertentangan dengan keinginannya untuk kembali ke Virginia, karena tidak mungkin sang adik yang dibawa ke sana. Apalagi Sigi adalah adik tiri, anak dari perkawinan kedua ayahnya dengan Grace, wanita yang menurut Mahoni telah merebut ayahnya. Mahoni sebenarnya tidak sudi untuk mengabulkan permintaan omnya itu, tetapi rupanya hatinya yang  keras mulai luntur. Omnya meminta waktu dua bulan bagi Mahoni untuk menjaga Sigi karena dirinya sendiri sedang kerepotan akibat istrinya yang sakit. Mahoni menurut, dia memastikan benar bahwa dirinya memang hanya akan dua bulan berada di Indonesia setelah itu kembali ke Virginia tanpa embel-embel Sigi ini dan Sigi itu. Dalam waktunya dua bulan itu, Mahoni bertemu dengan Simon, pria masa lalunya. Sofia, pacar Simon, yang pertama menghubungkannya kembali dengan Simon. Wanita itu adalah pemilik MOSS, biro arsitek yang didirikannya bersama Simon. Mereka mengajak Mahoni untuk bergabung di biro arstitek mereka, dan ingatan tentang hubungannya dengan Simon kembali merebak. Simon yang kembali hadir di kehidupan Mahoni memberikan banyak perubahan untuknya. Selain itu MOSS juga memberikan kehangatan keluarga yang ternyata dibutuhkannya selama ini. Perasaannya terus berkembang pada Simon sementara dia selalu memberitahu dirinya bahwa Simon telah memiliki Sofia. Tapi Simon tidak begitu. Meskipun telah memiliki Sofia, dia justru gencar mencari tahu perasaan Mahoni yang sebenarnya. Dia ingin menyelesaikan masalah mereka yang dulu pernah tertunda. Perbuatannya itu membuat Mahoni merasa seperti Grace yang telah merebut ayahnya dari tangan Mae, Ibunya sendiri. Ternyata manusia memang tidak akan pernah berhenci membenci jika dirinya sendiri tidak merasakan bagaimana rasanya dibenci itu. Novel ini unik, banyak sekali cerita Mahoni tentang kejadian di masa lalu yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Mungkin itu sebabnya judulnya memori ya :p Seperti bagaimana dia dulu begitu mengagumi ayahnya, bagaimana kesalnya dia saat ayahnya bercerai kemudian menikah lagi dan memiliki Sigi, bagaimana pertemuan pertamanya dengan Simon, bagaimana hubungan mereka setelah itu, dan sebagainya. Jadi buku ini nggak cuma berisi cerita di masa sekarang, tapi juga di masa lalu. Cerita di dalam novel ini juga nggak thok hanya berkisar pada kisah cinta, tapi juga pada kisah Mahoni dan kenangan mengenai ayahnya. Juga Mahoni dengan Sigi. Jujur kisah mengenai Mahoni dengan Sigi lebih memikat dibanding kisahnya dengan Simon. Bagaimana perasaannya yang berdebar-debar karena takut ketahuan saat tidak sengaja memerhatikan Sigi saat terlelap. Bagaimana perasaann bersalahnya saat Sigi menjemputnya ke stasiun di kala hujan sementara Mahoni justru diantar pulang langsung ke rumah. Bagaimana percakapan canggung yang dilakukannya dengan Sigi. Ujung-ujungnya aku malah menunggu-nunggu momen Mahoni Sigi dan cara penyelesaian masalah mereka berdua hingga akhir. Aku sebenarnya agak merasa aneh. Mahoni dan Simon itu tipe pasangan yang langka. Mahoni tipe gadis yang dingin dan Simon tipe yang  sinis. Nah,  paduan sifat antara keduanya, bagiku, terasa seperti pasangan yang dingin. Entah aku yang kurang pintar menilai sifat seseorang atau bagaimana, yang pasti biasanya pasangan seperti ini tidak saling melengkapi. Atau mungkin pikiranku saja yang terlalu sempit bahwa cewek jutek harusnya dapet cowok ceria atau sebaliknya ya? *kebanyakan nonton drama korea* Selain itu paling hanya penyelesaian hubungan Mahoni-Simon dan banyaknya kissing scene di novel ini *hahahaha* yang agak menggangguku, selebihnya oke. 3 bintang untuk novel ini karena penulisannya yang indah ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s