Teror Brutal Si Penuntut Balas

Resensi The Lodger

 

Judul               : The Lodger

Pengarang      : Marie Belloc Lowndes

Tahun terbit  : 1913

Penerjemah   : Nadia Adryani

Penerbit         : Tangga Pustaka

Jadi sebenarnya awal mula kesukaanku pada kisah klasik itu gara-gara musikal. Yeah, buat yang belum tahu, aku itu penggemar korea, dan di korea itu musikalnya udah bagus. Banyak musikal-musikal terkenal yang udah diadaptasi oleh korea, kayak Three Musketeers, Rebecca, Monte Cristo, Catch Me If You Can, Rudolph, Jack The Ripper, dan masih banyak lagi. Kebetulan aktor kesayanganku main di beberapa musikal itu, dan mulailah ku kepo-in tentang cerita musikal itu sebenarnya.

Seperti yang udah pada tahu, beberapa dari musikal yang aku sebutin barusan itu disadur dari novel-novel terkenal. Dan actually, aku bener-bener baru tahu kalo cerita-cerita itu disadur dari novel setelah aku kepo. Coba nggak kepo kan nggak akan tahu kalo novel itu ada. Dan untungnya aku kepo. Begitu denger bahwa musikal-musikal itu ada novelnya langsung deh ngebet banget pengen punya novelnya. Dan akhirnya jadi kesenengan, sekarang lagi pengen baca-baca novel klasik lagi.

Tagline untuk The Lodger ini adalah “Teror Brutal si Penuntut Balas, based on true story of Jack The Ripper”. Dulu aku emang pernah ngebet banget pengen tahu tentang Jack The Ripper, tapi baru sekarang bener-bener ngerti. Buka-buka di wikipedia katanya ada banyak novel yang menceritakan tentang Jack The Ripper, dan salah satunya adalah The Lodger ini. Waktu main ke Rumah Buku, mata langsung otomatis membesar saat liat judul ini terpampang di antara puluhan buku lain. Nampaknya aku memang berjodoh dengan buku klasik, haha. Baru beberapa hari kepoin tentang The Lodger, langsung nemu bukunya tanpa dicari :p

Seperti yang kita tahu, Jack The Ripper itu kan pembunuh serial di Inggris, Whitechapel tahun 1888. Dia jadi terkenal karena tipe pembunuhannya. Yang dibunuh selalu sama, gadis-gadis PSK yang suka berkeliaran malam hari. Cara pembunuhannya juga kejam, biasanya tubuh sang korban disayat-sayat, bahkan ada yang sampai diambil salah satu organnya (udah woy enek lama2). Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa sebenarnya sosok Jack The Ripper itu, bagaimana cara dia membunuh korban-korbannya itu dengan polisi yang bertebaran untuk nangkep dia, dan untuk apa.

Ellen Bunting, adalah seorang veteran pelayan rumah di keluarga-keluarga besar. Karena sudah berumur lanjut, dia dan suaminya yang juga dulunya memiliki pekerjaan yang sama hidup berdua saja di rumahnya yang cukup besar. Karena hanya tinggal berdua tanpa ada pekerjaan tetap, mereka memutuskan untuk menyewakan beberapa kamar. Sekian lama mereka hidup kekurangan, hanya beberapa koin saja yang dipegang untuk biaya makan. Keluarga Bunting adalah keluarga yang penuh martabat, mereka selalu membeli perabot dengan kualitas terbaik (namun berusaha mendapatkannya dengan harga murah), tidak ingin terlihat tidak punya, namun sebenarnya mereka sedang kelaparan. Robert Bunting, sang suami, sampai tidak mampu untuk membeli surat kabar kesukaannya.

Suatu hari, ada seseorang yang datang untuk menyewa kamar. Ellen Bunting senang bukan kepalang karena itu artinya mereka tidak akan kelaparan lagi. Gerak-gerik sang penyewa kamar memang sedikit aneh, tapi Ellen tidak merasa terganggu karena pikiran mengenai gemerincing uang lebih menyedot perhatiannya. Tanpa banyak protes, penyewa kamar itu langsung menyetujui harga kamar, dia bahkan berkeras ingin membayar kamar-kamar lain agar di lantai tersebut hanya ada dirinya.

Sebelum kedatangan penyewa kamar itu, pembunuhan aneh telah terjadi di London (aku nggak ingat ada tulisan Whitechapel di novelnya). Karena tidak bisa membeli surat kabar, Robert Bunting—yang sangat  tertarik pada berita semacam ini—mendapatkan informasi dari loper koran yang terkadang meneriakan headline surat kabar yang dijualnya, atau dari salah satu kenalannya yang bekerja di kepolisian, Joe Chandler. Hari-hari keluarga Bunting semakin baik dengan kehadiran penyewa kamar di rumah mereka. Robert bisa membeli surat kabar dan mengetahui sendiri tentang pembunuhan misterius itu, dan Ellen bisa membeli makanan-makanan yang pantas.

Menurut surat kabar dan informasi dan Joe Chandler, pembunuh itu selalu meninggalkan secarik kertas yang ditulisi oleh tinta berwarna merah bertuliskan “Sang Penuntut Balas”. Bisa disimpulkan di sini bahwa nama itu adalah nama yang dipakai sang penulis untuk menyebutkan “Jack The Ripper”. Penyelidikan itu terus berlanjut, polisi semakin dikerahkan, tapi sang pembunuh selalu lihai, dan korban-korban terus saja ditemukan di sudut-sudut kota London.

Sementara itu Ellen merasa aneh dengan kepergian si penyewa kamarnya setiap malam hari. Dia selalu keluar sekitar jam 1-2 pagi saat orang-orang tengah tertidur dan baru kembali 3-4 jam kemudian, sebelum orang-orang terbangun. Ellen, sebagai pemilik rumah yang agak mengkhawatirkan keberadaan penyewa kamarnya suatu kali terbangun saat penyewa kamarnya itu akan pergi di malam hari. Dan sejak itu dia tidak pernah tenang. Beberapa bukti yang diberikan surat kabar, testimoni orang-orang yang katanya pernah melihat sang pembunuh, dan sesuatu yang janggal yang ditemukannya saat membersihkan kamar sang penyewa membuatnya seperti diterjang teror. Dan teror yang dirasakan Ellen inilah yang menjadi inti cerita novel ini.

Ellen selalu menutupi kecurigaan yang dirasakannya tentang penyewa kamar dari suaminya, tapi akhirnya sang suami pun merasakannya. Ditambah lagi Daisy, anak Robert dari istri yang pertama, sekarang sering berada di rumah mereka dan menjalin hubungan dengan Chandler. Membuat mereka tidak tenang karena Daisy adalah wanita muda yang biasanya menjadi korban pembunuhan itu.

Nah, ekspektasi pertamaku saat beli buku ini adalah: di dalemnya pasti nyeritain tentang si Jack The Rippernya. Well, memang iya sih ada, cuman yang jadi sudut pandang peceritaan di sini bukan Jack The Ripper-nya sendiri. Melainkan Ellen Bunting. It’s okay sih, novel Sherlock Holmes aja yang jadi pencerita si Watson-nya bukan Holmes. Tapi di sini beda, sepertinya judulnya lebih tepat: Ellen Bunting Yang Diteror Oleh Jack The Ripper (judul nggak mutu banget).

Bukan bermaksud menjatuhkan novel ini, tapi ya itu: isinya jauh dari ekpektasiku. Aku pikir di dalemnya bakalan ada adegan-adgena macem di Sherlock Holmes gitu, dibahas tentang pembunuhan yang terjadi, dibahas lebih jauh tentang si penyewa kamar yang dicurigai adalah Si Penuntut Balas itu. TAPI NGGAK! Bener-bener di sini nyeritain tentang Ellen Bunting, yah kadang suaminya. Gimana kerjaan Ellen dulu, gimana sifat dia yang sedikit acuh sama anak tirinya si Daisy, gimana dia curiga sama penyewa kamarnya tapi nggak bisa berbuat apa-apa dan justru malah jadi kayak menutup-nutupi. Yeah, all about Ellen, hahaha.

Aku bingung letak horornya di mana, oh mungkin waktu Ellen merasa terteror itu ya, ya bisa juga sih. Cuma aku  pikir tuh bener-bener di bahas tentang Jack The Ripper-nya, kan asyik kalo kita bisa tahu gimana cara kerja, jalan pikiran, atau sifat si Jack The Ripeer ini meskipun cuma fiksi. Tapi jatohnya si Jack The Ripper-nya sendiri cuma dibahas sedikit di sini. Dengan inti cerita yang seperti itu, alurnya jadi terkesan lambat. Emosi pembaca sempet naik sih di adegan-adegan kayak pas Ellen nemuin sesuatu di kamar penyewanya, atau waktu dia bener-bener ngerasa terteror sama penyewanya sampe-sampe suara langkah kakinya aja bikin serem dia, ato pas ending tuh lumayan juga. Tapi ya itu kembali lagi, kurang sesuai dengan ekspektasiku, jadi aku sedikit kecewa.

Tapi lumayanlah sebagai pengingat untukku bahwa aku punya koleksi tentang Jack The Ripper, hehehe *ini kok kayak Jack The Ripper mania gini sih*

Well, selain daripada jalan cerita yang itu, bukunya cukup enak sih. Tulisannya besar-besar dan rapi. Kalau typo aku kurang merhatiin sih, tapi kayaknya nggak banyak. Aku belum pernah sih denger penerbitan ini, tapi kalau memang benar penerbitan baru, berarti ini cetakannya udah termasuk bagus. Ada sih beberapa halaman yang tintanya agak pudar, tapi sejauh ini masih oke. Paling satu minusnya, di halaman belakang nggak ada tulisan tentang si penulis, hehehe :p *banyak maunya banget sih*

Pernah lihat filmnya juga yang versi tahun 2009, tapi kalo di situ udah diadaptasi jadi masa sekarang. Nah, ternyata kalo nonton filmnya lebih kerasa tegangnya karena ada musik-musik sama sekilas pas cewek ditarik dan dibunuhnya. Hehe.

Nah kan, aku bingung mau ngasih brapa bintang. Pengennya sih dua setengah aja. Tapi susah juga kalo pake setengah2 gitu. Aku buletin jadi tiga aja deh, karena aku selalu admire sama novelis wanita yang berani nulis misteri kayak gini :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s